Kumpulan Kata-kata Romantis, sms romantis, Broadcast BBM Romantis dan Puisi

Posted on

Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.

Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk.

Sajak adalah gubahan Sastra yang berbentuk Puisi; bentuk Karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan terikat; gubahan karya sastra yang sangat mementingkan keselarasan Bunyi bahasa, baik kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan.

Dan kali ini blog Seribu sajak cinta puisi cinta, puisi untuk pacar, puisi selamat tidur terbaru romanis Seribu sajak cinta kali akan berbagi Kumpulan Kata-kata Romantis, sms romantis, puisi malam minggu, puisi selamat malam.

Seribu Sajak Cinta untuk update status facebook, sms romantis, kata-kata malam minggu, kata-kata selamat tidur, kata romantis, so sweet, bbm romantis, chat romatis. puisi selamat tidur, puisi malam minggu.

  1. Dan engkau meluka diantara para iga itu, menjadikan buta pada cemburu. Usah kau melulu dalam prasangka; aku hanyalah pengasah rindu.
  2. Aku berjalan ke hutan untuk mencarimu. Tapi aku menemukan sesuatu lebih; kesepian hatimu.
  3. Aku tulis rindu di kertas, larik-larik merdu seiring. Bukanlah jumlah kuhirau; melainkan cinta yang tersesak.
  4. Aku menantimu bercinta di atas romaku. Menari getir bersama engkau yang aku kasihi. Aku berbicara kesetiaan; kisah awan pada hujannya.
  5. Gundah gulanah resah jiwa, sepi menari sunyi sendiri. Aku berjalan tanpa kaki; engkau yang memberi hati untukku selangkah.
  6. Tak ada yang lebih indah dari kau yang menerimaku atas ketidaksempurnaanku.
  7. Tak ada yang lebih dusta daripada aku yang berkata; cinta itu dusta.
  8. Bahwa cinta itu merdu sayang, seperti alunan burung hantu yang merindu. Bahwa hidup itu indah sayang; kamu yang bertengger di dadaku.
  9. Bukankah cinta itu tak berwujud; angan yang beterbangan di langit-langit malam.
  10. Bukanlah aku mengejar kaki; aku ingin diakui. Walau hati menahan tatih; aku yang tak ingin memberimu lirih.
  11. Aku bukan kalkulus, bukan falsafi. Aku; pejalan kaki yang menyetubuhi harimu, dan Kamu; estetika yang aku agungi.
  12. Terimakasih cinta; kau yang mengajarkanku cara mengeja rindu; sabar membaca dengan terbata, pada setiap larik2nya.
  13. Kubiarkan itu menggores denyut nadiku, yaitu rasa yang tajam dan tegas ketika dipertanyakan keberadaannya; cinta.
  14. Karena cinta air mata, terangkum dalam rindu yang menggebu. Dan aku malam yang melindungimu, menjaga lelap di tidurmu.
  15. Dan aku telah hilang, tenggelam kelam di dasar samudera terdalam. Tapi aku melihat keindahan dalam kegelapan, mutiara berkilauan; kamu.
  16. Sejuta mil itu bukan jumlah yang sedikit, sayang. Kutempuh itu karena cintamu padaku memberikan aku kekuatan untuk melangkah.
  17. Aku bertualang menyusuri bumi, dari lautan hingga daratan. Tapi aku menemukan sesuatu yang lebih dari sekedar jati diri; kamu.
  18. Diantara dera, luka, dan siksa, aku memilih cinta. Entah mengapa itu meneduhkanku, walau dera, luka, dan siksa, termasuk didalamnya.
  19. Mencintai; detik waktu yang ku lalui untuk menanti. Hingga tiba kalanya cinta mencintaku.
  20. Aku terperangkap dalam kelamnya malam. Menanti dirimu membawa secercah harapan, dan datang memeluk tubuhku yg usang.
  21. Aku di sini menunggu bidadariku, datang menjemputku untuk kembali. Pada kasih kekasih yang fasih aku memohon cinta.
  22. Mencintai; ketika bertahan di atas kegoyahan. Ketika berjuang walau lelah kepayahan.
  23. Terkadang sulit melawan rasa rindu, menentang rasa sendu. Bila sesekali aku melihatmu, seakan pisau menghunjam jantungku.
  24. Cinta; sebuah animasi yang kompleks.
    Lambang perasaan terungkap puitis.
  25. Mereka tertawa melihatmu memasang duri dalam diri. Dan aku meringis pada duri yang tak sampai hati.
  26. Cintaku mencintamu takkan mati, walau dibunuh berkali-kali. Cintaku mencintamu takkan menangis, walau dicucuri air mata bengis.
  27. Cinta ditaburi epilog impian, ketandusan kasih merentangi gurun perasaan. Aku masih menanti, saat kemarau di airi hujan ketabahan.
  28. Aku tahu cinta bukan sekedar indah. Ada kala dicucuri luka dan lirih. Tapi aku menemukan yang terdalam; kamu indahku yang terlirih.
  29. Aku terbalut sepi menanti, diantara rindu yang belum terbasuh. Aku sang pengutip serpihan warna, melepas benak pada lingkaran waktu.
  30. Aku tewas pada warna kerinduan, menatap sepi kelam ketika mentari melambai merah. Aku sendiri berjuang, demi hati yang diperah.
  31. Wajah umpama bidadari, kugapai namamu tegak baiduri. Di dalam lamunan kita menari, memapahku untuk berlari.
  32. Kalaulah aku sekuntum bunga, akan kuhiasi duniamu merekah. Kalaulah aku pepohon, kan kupuas dahagamu dengan buah cintaku.
  33. Cerita cintaku dipudar oleh waktu, tapi ku takkan meluluh. Tulusku mencintamu, ikhlasku mendambamu, menjadi kekuatanku.
  34. Terima kasih di atas segala indah, tidak mengeluh walau digamit keperitan; kekuatan cintamu
  35. Kau umpama pelita hidupku, wanita dari sebutanmu. Mengingatkanku kepada ibu, tulus kasih membalut hati; cinta mencintaku
  36. Senja memapah aku, untuk lari dari kelam asa. Kau jua penghuni lara, pada aku kau ukirkan pelantaran rasa; kemerahan hati.
  37. Kuterpa diri dengan asa dan rasa. Andai diri dapat berkata, akan kulontar pada dunia; tentang cinta dan luka.
  38. Jiwa rapuh teguh matlamat, disimbah racun tidaklah luruh. Dikau mentari dipercik misteri dibelai doa; mencinta yang abadi.
  39. Mentari subuh mengejar senja, kekal pada azali kejadian. Kelawar berlegar di malam sepi, direstu setanggi setangkai doa; asaku.
  40. Aku hampar duri-duri, sukar berlari tanpa hati. Dalam asa kuterbiar sebenar kuasa, cinta, nafsu, dan luka dari.
  41. Bumi neraka dicucuri dipersia, dibendung mahadzir dan matlamat. Takkan hati menikam simpati, biar cabaran merasai.
  42. Aku menulis sederhana, teruntuk hati yang bersahaja. Menanti cinta mencintaku, hingga asa akhir pada waktunya.
  43. Aku berjalan di ramai kota, tetap lirih mengiris sepi. Aku berjalan telusur malam, tetap bintang menyinari; rembulan terlupa.
  44. Aku punguk yang merindu, akan hadir dan rasamu. Semua hati terselami, hanya kau yang aku tuju.
  45. Kau elok bak rembulan, seindah lukisan menyinari. Biar cemburu merasuki, bahwa aku benar mencintai.
  46. Detik malam kulalui, dalam cumbuan yang membasahi. Takkan kering jiwaku ini, denganmu yang mencintai.
  47. Pelukanmu membasahiku, dari keringnya dahaga dunia. Takkan terlepas genggamanku, tenggelam dalam sejatinya cinta.
  48. Takkan habis inspirasiku, walau lelah dimakan waktu. Takkan sirna cintaku, walau kau bukan milikku.
  49. Kan kutunggu waktuku, disaat kau mencintaku. Kan kujaga dirimu, saat cinta mencintaku; dirimu utuh milikku.
  50. Aku mencintamu, bak imanku kepadaNya. Aku menghargaimu, bak ciptaanNya dari rusukku.
  51. Cita cintaku adalah mencintamu berharap cintamu jua mencintaku dan bercinta dalam cerita cintaku yang sederhana ini.
  52. Cinta seperti waktu, yang takkan habis dimakan zaman. Hingga akhir dunia, harapku kita dipertemukan kembali oleh sang maha cinta.
  53. Degup jantungku takkan terhenti, oleh pedang tertajam sekalipun. Dan aku mati, bila kau pergi dari hatiku.
  54. Kecantikanmu; menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku untuk selalu mengenangmu. Walau memabukkan, tapi aku senang bersamamu.
  55. Ketika aku sedang jatuh cinta, jagalah cinta itu. Dari cerca dan hina, dari luka dan dosa, agar semua menjadi terpuji.
  56. Ketika aku berucap cinta padamu, biarlah semua dunia tahu. Agar kelak aku tak jatuh, dalam cinta yang bukan karenamu.
  57. Kau; orang ketiga yang aku cintai. Setelah sang maha cinta, dan yang terkasih ibu.
  58. Aku mencintaimu, ingatkan aku akan sebuah akhir. Agar aku tetap bersamamu dan tak pernah berakhir.
  59. Binar matamu biru nun teduh, diiringi biorama irama malam. Tak terbantah tetes permatamu biru; aku terhanyut melodi senjamu.
  60. Ku mendekapmu dalam peluk, takkan kulepas selaya hitamku. Aku terali dalam hatimu dan sayangku adalah nadimu.
  61. Pecah rindu dalam keriangan, ketika cinta berpadu cumbu. Jiwa kelam tak sampai di angan, ketika hati sedang berandu.
  62. Begitu indah, merdu, kian merayu; nyanyian camar disaat kita mencinta.
  63. Begitu tipis perbedaan cinta dan luka; luka untuk mencinta dan cinta dalam meluka-luka.
  64. Kamu; bingkai malam yang membungkus sepi. Tertahan oleh cintamu, terbawa dalam melodi indahmu.
  65. Aku tertatih-tatih melirih diantara larik-larik yang tersirat di tiap bait. Kamu cita-cita yang mencinta dalam cerita tak berbahasa.
  66. Aku dusta pada malam tentang rindu. Aku tak mencinta, tak punya arti dari hadirmu; cemburu berbisik sendu.
  67. Aku mencintamu ketika sedang terlelap. Agar malam tak merenggutmu dari tidurmu.
  68. Aku merindumu ketika membuka mata. Mentari pagi tak kurelakan untuk menyentuhmu sebelumku.
  69. Aku menantimu di kala senja; kuikat rembulan untuk menaruhmu dalam bingkai malamku.
  70. Kau payung hatiku, pelindung dari hujan, panas, dan deru kesedihan; cintaku yang mencintaku.
  71. Rindu itu pedih, sayang. Seperti memakan buah khuldi dan aku terhempas jatuh karenanya.
  72. Aku selalu terjaga, menunggumu menyapa di tengah kegalauanku. Aku selalu menanti, kata-kata rindu dari setiap gerak bibirmu.
  73. Bukan kopi membuatku terjaga, tapi adukanmu di bibir gelas yang seolah bicara padaku; “malam ini jangan tidur, sayang”.
  74. Jangan takut terhina, sayang. Karena disitu aku membelamu, dari segala nista yang paling jahat.
  75. Seperti mata-mata kecil memandang kita, cemburu di balik awan di kala senja. Aku bernaung atas nama cinta; tulus kasih yang tak terbantahkan.
  76. Aku kembali labil, merasakan deru rindu menggebu di dada. Aku kembali muda, nan abadi melingkari hari dengan dirimu.
  77. Aku mencinta, dari kedalaman sudut hatimu; perih luka yang kau semai. Bukan cinta-cinta yang lainnya.
  78. Cintailah yang mencintamu, bukan mengadon cinta yang mencari. Akar kata ku luruh, demi rangkai ku rindu.
  79. Kau semaikan larik-larik merindu pada nada sendu. senja menyajak, dan aku membiru takut kehilanganmu.
  80. Di maya atau nyata, aku mencintamu. Di cinta dan tak cinta, aku menyayangmu; penantianku.
  81. Aku mencari jiba sebagai pemuas dahaga. Tapi aku menanti satu yang pasti; rindu yang sudah.
  82. Aku, dengan segala keterpurukanku. Dalam telaga biru, kuhirup air mata dewa-dewi. Tak letih mencintamu, walau aku lelah terkutuk.
  83. Hujan tak kian reda; sikap rindu yang melulu. Dan aku tak pernah jera, mengagumi makhluk terindah; kamu.
  84. Cintamu tanpa syarat, menepis peluh dan kesahku. Kau makhluk sempurna yang terlupa, bahwa dirimu sangat berharga dilupa.
  85. Kau, sempurna yang kadang lupa. Hadirmu menepis peluh, kesah. Kau terlalu berharga tuk dilupa; wanita.
  86. Kasih dengarlah riuh jiwa , tentang cinta, luka, dan indah. Karena kita dirangkum rindu, beriak hati berbisik sendu.
  87. Sejatinya cinta; luka yang menguak luap dari nadi yang tergores peluh rindu yang abadi.
  88. 8; Angka sempurna, tak ada garis putus di segala sisi. Seperti kita yang saling meluka, saling melengkapi.
  89. Aku menyukai mie kuah seperti mencintamu; kenyang atas segala luka yang tak jera.
  90. Kasih sayang yang bertubi-tubi melalui luka-luka yang menganga; sajak cintaku.
  91. Mengenang masa lalu; kita terpaut yang disebut itu cinta. Kini kita di surga, sayang, dan kau tetap bidadari terindah
  92. Buat apa yang lebih, jika aku telah akhir mencari; aku yang telah menemukanmu, yaitu cinta sejati.
  93. Kala cinta kupuja, aku lupa akan imanku. Kala aku bertengadah, tak lupa aku mendo’akanmu.
  94. Cita cintaku adalah mencintamu berharap cintamu jua mencintaku dan bercinta dalam cerita cintaku yang sederhana ini.
  95. Mata adalah pengikat hati, cermin dari segala rupa; bola-bola cinta yang menggelinding di labirin, mencari celah rasa.
  96. Mata adalah tempat pertemuan, dimana cinta dan luka berbicara. Dengannya kau membunuh rindu, darinya kau meluka.
  97. Jangan kau bertanya “kenapa” aku mencinta, jawabannya adalah “bagaimana” cara ku melukaimu.
  98. Di kala rembulan meninggalkan peraduannya, kumohon kau tuk tak letih mencintaiku.; sebait doa dalam setangkup rindu.
  99. Aku dan kamu, tenggelam dalam remang senja, terhanyut panorama cinta. Dalam riuh bunyi, cumbu murka akan rindu yang maha.
  100. Telah lama ku sanjungkan sosokmu dalam perputaran laj101. Di bingkai malam rembulan berandu. Biarlah kupendam rindu yang menderu-deru. Agar kelak tertumpah dahsyat dihadapanmu.
BACA JUGA:  Terungkap Kenapa Kemasan Celana Dalam Cowok dan Cewek Itu Beda ...

(Update #1 14/01/2016)

3 thoughts on “Kumpulan Kata-kata Romantis, sms romantis, Broadcast BBM Romantis dan Puisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *